Alert! Sosok Ini Ramal Kiamat Datang 100 Tahun Lagi

CNBC Insight on this day, stephen hawking

Tepat hari ini lima tahun lalu fisikawan ternama dunia Stephen Hawking meninggal. Dia tidak hanya mewariskan keabadian ilmu fisika, tetapi juga ramalannya terhadap dunia masa depan.

Mengejutkannya ramalan tersebut berisi prediksi kehancuran dunia dalam waktu kurang dari 100 tahun. Kok bisa?

Pernyataan itu disampaikan dua kali oleh Hawking di kesempatan berbeda. Pertama, pada 2016 lewat tulisan di The Guardian berjudul “This is the Most Dangerous Time for Our Planet”. 

Menurutnya, bumi sedang berada di masa kritis sepanjang sejarah. Umat manusia kini dihadapkan oleh permasalahan serius. Seperti perubahan iklim, hantaman asteroid, overpopulasi, epidemi penyakit, terhentinya produksi pangan, keterpunahan spesies, dan pengasaman lautan.

Soal perubahan iklim, misalnya, Hawking memprediksi apabila manusia tidak menahan laju pemanasan global, maka bumi akan seperti Venus. Di mana planet itu bersuhu 250 derajat celcius disertai hujan asam.

Jika permasalahan tersebut dibiarkan berlarut, maka manusia akan menghadapi kehancurannya sendiri. Masalahnya, kata Hawking, manusia sama sekali tidak bisa mengelak dari permasalahan tersebut.

Manusia tidak bisa berharap pada kemajuan teknologi yang disinyalir mampu mengatasi kegentingan bumi. Justru teknologi-lah yang jadi biang kerok maraknya tanda kiamat.

Salah satu yang sangat menjadi ancaman di mata Hawking adalah pengembangan robot dan Artificial Intelligence (AI).  Dalam paparan CNBC International, Hawking sangat percaya kalau kedua teknologi itu pada suatu masa akan berada pada satu titik untuk menghancurkan hidup manusia.

Dari berbagai permasalahan itu jika tidak bisa mengelak, maka kiamat atau kemusnahan bumi sudah di depan mata. Atas situasi ini, mengutip Wired, dia pernah memprediksi bahwa kiamat akan terjadi 1.000 tahun lagi.

Belakangan, kurang dari setahun setelah pernyataan itu, Hawking kemudian meralat prediksi tersebut. Ralat ini disampaikan kepada BBC dalam serial “Tomorrow’s World” pada 2017. Dia menyebut kiamat bakal datang 100 tahun lagi.

Percepatan itu diprediksi oleh hal serupa, yakni kondisi bumi yang semakin miris. Beranjak pada situasi seperti itu, Hawking menyerukan agar manusia segera mencari tempat kehidupan baru. Sebab, pada 2117 bumi akan musnah.

“Manusia harus segera meninggalkan bumi dan menyusun kembali kehidupan di dunia baru, entah itu tinggal di pesawat luar angkasa atau planet lain. Jika tidak dilakukan, maka manusia akan mengalami kepunahan di abad berikutnya,” kata Hawking dalam acara Stephen Hawking: Expedition New Earth di BBC.

Pernyataan pria kelahiran 8 Januari 1942 ini memang terkesan menakuti-nakuti. Namun, terlepas dari perdebatan perhitungan angka waktu kiamat, tanda kiamat yang merujuk pada kehancuran umat manusia memang kian marak.

Terkait isu krisis iklim misalnya, CNBC pernah membuat laporan bagaimana orang-orang kaya di dunia berkontribusi besar pada krisis iklim.  Emisi gas rumah kaca (GRK) global antara tahun 1990 dan 2019 menunjukkan bahwa 10% orang terkaya dari populasi dunia mengeluarkan hampir 48% emisi global pada tahun 2019.

Parahnya lagi, 1% dari posisi teratas menyumbang 17% dari total emisi. Angka ini jelas sangat besar dibanding populasi termiskin dunia yang hanya menyumbang 12% terhadap emisi global.

Tak hanya itu, perkara sepele seperti sikat gigi pun menyumbang pada percepatan krisis iklim. Sikat gigi yang tiap manusia menggantinya 3-4 kali setahun membuat bumi dapat terlilit oleh benda kecil ini.

Sama seperti plastik, sikat gigi pun baru bisa terurai setelah 200-700 tahun. Selama itu, tulis Massachusetts Institute of Technology, plastik akan mengeluarkan gas rumah kaca. Dan jika berada di laut akan mematikan kehidupan zooplankton yang memiliki peran untuk menyerap karbon.

Lantas, jika benar kiamat akan datang 100 tahun lagi, apakah kita sudah siap menghadapinya? Atau sudah siapkah kita untuk pergi ke luar angkasa?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*