Awas “Perang” Arab Saudi vs AS Makin Panas, Ini Fakta Barunya

Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden AS Joe Biden bertemu di Istana Al Salman setibanya di Jeddah, Arab Saudi, Jumat (15/7/2022).  (Bandar Algaloud/Courtesy of Saudi Royal Court/Handout via REUTERS)

Ketegangan antara Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS) diyakini bakal makin serius. Ini terkait pengumuman OPEC+ yang kembali memotong produksi minyak 1,16 juta barel per hari (bpd), Minggu waktu stempat.

OPEC+ adalah kumpulan negara penghasil minyak yang terdiri dari 13 anggota dan 11 negara penghasil minyak lain namun berada di luar OPEC. Salah satunya anggotanya plusnya termasuk Rusia.

Sebagaimana diketahui OPEC saat ini dipimpin oleh Arab Saudi, sekutu tradisional AS si Timur Tengah. Tapi, tindakan ini tak sesuai harapan Presiden Joe Biden, yang telah lama meminta peningkatan paskan untuk menurunkan harga minyak dan “menekan” penghasilan Rusia.

“Namun, pengumuman hari Minggu juga menggarisbawahi kerja sama yang erat antara negara penghasil minyak dan Rusia,” kata analisis koresponden BBC untuk Timur Tengah, Sameer Hashmi, dikutip dariĀ BBC International, Senin (3/4/2023).

“Pengurangan terbaru terjadi di atas pemotongan yang diumumkan oleh OPEC+ pada Oktober tahun lalu sebesar dua juta barel per hari. Namun, pemotongan tahun lalu terjadi meskipun ada seruan dari AS dan negara lain agar produsen minyak memompa lebih banyak minyak mentah,” tambahnya.

“Ketika grup OPEC+ mengumumkan pengurangan produksinya pada bulan Oktober, Presiden AS Joe Biden mengatakan dia ‘kecewa dengan keputusan yang berpandangan sempit’,” jelasnya lagi.

“Namun, pengumuman hari Minggu juga menggarisbawahi kerja sama yang erat antara negara penghasil minyak dan Rusia,” kata analisis koresponden BBC untuk Timur Tengah, Sameer Hashmi, dikutip dariĀ BBC International, Senin (3/4/2023).

“Pengurangan terbaru terjadi di atas pemotongan yang diumumkan oleh OPEC+ pada Oktober tahun lalu sebesar dua juta barel per hari. Namun, pemotongan tahun lalu terjadi meskipun ada seruan dari AS dan negara lain agar produsen minyak memompa lebih banyak minyak mentah,” tambahnya.

“Ketika grup OPEC+ mengumumkan pengurangan produksinya pada bulan Oktober, Presiden AS Joe Biden mengatakan dia ‘kecewa dengan keputusan yang berpandangan sempit’,” jelasnya lagi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*