Harga LCGC Naik, Mobil China Bakal Jadi Raja di RI?

Wuling Air ev Motors di gelaran GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2022 di Tangerang, Banten, Kamis (11/8/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Pasar mobil China di Indonesia diprediksi bakal kian bongsor menyusul kenaikan harga mobil murah ramah lingkungan (low cost and green car/ LCGC).

Seperti diketahui, pemerintah memutuskan menaikkan acuan LCGC. Meski, kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, keputusan menaikkan harga ada di tangan produsen.

Dengan penyesuaian ini, harga LCGC diproyeksikan bakal naik sekitar Rp6,7 juta.

Saat ini, harga acuan LCGC adalah Rp135 juta, mengacu pada pasal 4 ayat (1) huruf (e) Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) No 36/2021 tentang Kendaraan Bermotor Roda Empat Emisi Karbon Rendah.

Pengamat Otomotif Yannes Martinus mengatakan, kenaikan sekitar Rp6,7 juta akan jadi tantangan bagi pasar LCGC di Indonesia.

“Kenaikan harga LCGC bisa mempengaruhi daya beli konsumen. Jika harga LCGC naik terlalu tinggi, maka mungkin akan ada penurunan permintaan,” kata Yansen kepada CNBC Indonesia dikutip Selasa (14/3/2023).

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), total mobil LCGC yang terjual pada bulan Januari 2023 lalu mencapai 20.701 unit. Melonjak hampir dua kali lipat yakni dari 12.127 unit pada Januari 2022 lalu.

Di sisi lain, kata dia, kenaikan harga LCGC membuka peluang bagi mobil-mobil China yang masih masuk kategori murah. Selama ini, kata dia, pasar LCGC dikuasai mobil Jepang.

Bukan berarti, imbuh dia, mobil murah negara lain termasuk China tidak berpeluang di pasar Indonesia.

“Selain LCGC, masih ada mobil lain yang bersaing di pasar mobil murah Indonesia. Ada beberapa merek mobil murah dari China yang sudah memasuki pasar Indonesia, seperti Wuling, Chery dan DFSK,” katanya.

“Jika harga LCGC naik terlalu tinggi, konsumen mungkin akan beralih ke mobil lain yang lebih murah atau memiliki fitur yang lebih menarik,” tambah Yansen.

Selain karena harga, kata dia, konsumen saat ini juga lebih mempertimbangkan fitur, efisiensi bahan bakar, dan reputasi mobil sebelum membeli.

“Artinya, sekarang terbuka segmentasi pasar mobil murah baru yang harganya di bawah LCGC. Tentunya masih banyak merek dan varian mobil China yang bisa berharga di bawah 130 jutaan OTR (on the road),” jelasnya.

“Ini jadi peluang bagi mereka untuk membidik segmentasi generasi muda ‘first time new car buyer’ yang punya cita rasa bagus, tapi keuangan masih terbatas,” kata Yansen.

Yang penting, ujar dia, merek-merek tersebut tetap harus bisa memenuhi ketentuan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang telah ditetapkan pemerintah.

Sebenarnya, era ‘kepunahan’ LCGC sudah terjadi sejak beberapa waktu lalu. Ditandai dengan keputusan pabrikan ‘suntik mati’ LCGC keluaran Suzuki dan Datsun, yaitu Karimun Wagon dan Datsun Go.

Hal ini bisa saja berawal dari kebijakan pemerintah yang tak lagi menganakemaskan LCGC. Kini, pemerintah tengah disibukkan dengan pengembangan kendaraan listrik berbasis baterai di dalam negeri.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*