Raja Salman Undang Musuh AS ke Saudi, Ini Respons Washington

Presiden Suriah Bashar al-Assad. (AP/Hassan Ammar)

Arab Saudi berencana untuk mengundang Presiden Suriah Bashar Al Assad untuk datang ke Riyadh pada Mei mendatang guna menghadiri pertemuan Liga Arab. Ini merupakan salah satu upaya Negeri Raja Salman itu untuk memulihkan kembali hubungan dengan Damaskus.

Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan akan melakukan perjalanan ke Damaskus dalam beberapa minggu mendatang untuk menyerahkan undangan resmi kepada Assad untuk menghadiri pertemuan puncak yang dijadwalkan pada 19 Mei itu.

Sementara itu, juru bicara Sekretaris Jenderal Liga Arab Gamal Roshdy mengatakan organisasi itu tidak mengetahui setiap langkah di tingkat bilateral antara negara-negara Arab.

“Kami tidak seharusnya diberitahu sebelumnya tentang dugaan kunjungan itu,” katanya kepada¬†Reuters, Senin (3/4/2023).

Kehadiran Assad di KTT Liga Arab akan menandai perkembangan paling signifikan dalam rehabilitasinya di dunia Arab sejak 2011, ketika Suriah diskors dari organisasi itu. Assad telah diboikot oleh banyak negara Barat dan Arab atas penumpasan brutalnya terhadap protes sipil yang memicu perang saudara.

Sumber bulan lalu mengatakan bahwa Riyadh dan Damaskus telah mencapai kesepakatan untuk membuka kembali kedutaan mereka setelah bulan suci Ramadan.

Adapun, Kementerian Luar Negeri Saudi tidak mengonfirmasi kesepakatan yang dicapai, tetapi mengatakan sedang dalam pembicaraan dengan Kementerian Luar Negeri Suriah untuk melanjutkan layanan konsuler.

Salah satu dari tiga sumber mengatakan diskusi telah berlangsung selama lebih dari setahun mengenai daftar tuntutan dari Arab Saudi agar pemerintah Suriah memenuhi syarat untuk memperbaiki hubungan, termasuk kerja sama yang erat dalam bidang keamanan dan perdagangan narkoba.

Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) yang merupakan mitra Saudi dan ‘musuh’ Suriah mengatakan bahwa kesepakatan antara negara Arab dan Suriah harus menghasilkan sesuatu yang menguntungkan negara-negara Timur Tengah.

Berbicara dalam pengarahan digital dari Pusat Media Internasional London Departemen Luar Negeri AS, Asisten Menteri Luar Negeri untuk Urusan Timur Dekat Barbara Leaf mengatakan bahwa Washington telah berdiskusi dengan sekutunya di Timur Tengah tentang ‘pergeseran kebijakan mereka’ terhadap Assad.

Salah satu poin yang ditekankan oleh Barbara adalah terkait perdagangan Captagon. Captagon merupakan salah satu barang narkotika yang diduga dijual oleh rezim Assad untuk mendapatkan pendanaan saat negara-negara Barat menjatuhkan sanksi terhadap negara itu.

“Pendekatan kami terkait metode diskusi adalah memastikan untuk mendapatkan sesuatu dari metode itu,” ujarnya dikutip Middle East Monitor.

Meski begitu, Barbara menegaskan kembali posisi AS bahwa negaranya tidak akan menormalisasi hubungan dengan Damaskus, seperti yang dilakukan banyak negara Arab di kawasan itu selama beberapa tahun terakhir.

“Kami tidak bermaksud untuk melakukan normalisasi. Rezim ini merupakan bencana bagi rakyatnya dan juga bagi lingkungannya.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*